Pertumbuhan Ekonomi Sulbar Timpang, 2 Hal Ini Jadi Penyebabnya

Diposkan oleh On Monday, August 06, 2018

-- --




Sektor pendorong Pertumbuhan Ekonomi Sulbar, nampaknya menunjukan cela ketimpangan Ekonomi, itu disebakan ekonomi hanya bertumpu pada 1 sektor yang tidak didukung oleh ekonomi lapis ke-dua secara bersamaan setiap tahunnya.

“Pijakan Ekonomi kita timpang, karena hanya bertumpu pada satu sektor, hanya pertanian. Yang perlu pemerintah dorong adalah ekonomi lapis ke-dua” Kata Suntono, Kepala BPS Sulbar, kepada wartawan, di Lantai Dua. Senin (6/8/18).

Timpang yang di maksud Suntono adalah di mana sektor penggerak roda ekonomi Sulbar dominan pada Perkebunan dan Perikanan, sementara jika melihat produksi sawit di Sulbar secara keseluruhan,  dipengaruhi oleh tingkat permintaan kebutuhan produksi luar negeri.

“Kan aksesnya, langsung ke luar negeri, sementara sawit itu, rentan tehadap isu-isu global, isu lingkungan, dan makanya ketika permintaan terkait produk sawit di Indonesia  menurun maka akan berdampak pada berkurangnya produksi” Jelas Suntono.

Di sisi lain kata Suntono, Sektor Second Line (Baris ke-dua), tak mampu menjadi penopang yang pada dasarnya serapan ekonomi tersebut ada pada sektor Industri, Perdagangan, dan Kontruksi belum bisa menjadi solusi pijakan Ekonomi di Sulbar.

Dikatakan suntono, jika ekonomi berpijak pada sektor perkebunan, melihat kondisi saat ini, potret pertumbuhan ekonomi sulbar masih terbilang stabil dari bulan Juni, melihat persoalan sawit tersebut terjadi pada bulan Juli 2018.

“Kalau hal itu tidak teratasi, kemungkinan akan menganggu” Ungkapnya.

Menurut Suntono, langkah yang harusnya di ambil oleh pemerintah daerah adalah dengan melakukan pendekatan ke pemerintah pusat, dan selanjutnya pihak asing yang menjadi penggerak perputaran ekspor Ekonomi.

“Pemerintah harus melaukan loby-loby ke Eropa, terutama yang menjadi salah satu pengguna produk ekspor CPO kita” Jelasnya.

Ia menjelaskan, Eksplorasi Sawit dalam skala Internasional, Indonesia merupakan negara yang lebih banyak dirugikan oleh karena isu-isu lingkungan, pekerjaan anak yang kemudian dilibatkan dalam sektor perkebunan. (Adr/)

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »