Mengapa Sabtu Jadi hari libur Kantor? Ini Penjelasannya

Diposkan oleh On Sunday, May 27, 2018

-- --



Sabtu  hari libur untuk  orang kantor, mengapa demikian? 
Sebelum tahun 1994, sebagian besar pegawai negeri sipil atau karyawan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) serta para pekerja pabrik milik pemerintah di seluruh Indonesia pada hari Sabtu masuk dan bekerja seperti biasa walaupun hanya setengah hari. Belum ada peraturan atau usulan dari pemerintah bahwa hari Sabtu kantor-kantor pemerintah ditutup seperti yang terjadi sekarang ini, khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Medan dan lain-lain. Dengan dinyatakan Libur pada hari Sabtu, oleh sebagian besar masyarakat disambut dengan antusias, khususnya bagi mereka yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil.

Di awal tahun 1990-an, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negera (PAN), TB Silalahi, pernah mengusulkan kepada Presiden Soeharto (pada waktu itu) agar hari Sabtu dijadikan hari libur nasional, khususnya bagi pegawai negeri di seluruh Indonesia. Alasan yang dikemukan oleh menteri PAN antara lain untuk efisiensi, baik dalam penggunaan listrik, telepon dan sarana-sarana penunjang lain milik pemerintah, sehingga biaya penggunakan sarana tersebut berkurang. Usulan tersebut oleh presiden belum mendapatkan respon yang menggembirakan dengan alasan usulan tersebut masih dipertimbangkan, utamanya bagaimana reaksi perusahaan atau industri terhadap kemungkinan hari Sabtu diliburkan tersebut.

Mendengar bahwa menteri TB Silalahi mengusulkan kepada presiden supaya hari Sabtu diliburkan, Dr. Haryono Suyono, ketika itu menjabat sebagai Menteri Negara Kependudukan/ Kepala BKKBN, mencoba memperkuat usulan yang disampaikan menteri PAN tersebut kepada Presiden, agar Sabtu dijadikan hari libur nasional. Dr. Haryono Suyono mengemukakan alasan tambahan bahwa alasan yang penting bukan hanya efisiensi atau penghematan, tetapi hari libur itu akan memberi kesempatan kepada pegawai/karyawan yang tinggal di kota, pada hari Sabtu dan Minggu, berkunjung kepada saudaranya yang berada di desa dan menikmati suasana pasar TUGU atau pasar Sabtu dan Minggu di pedesaan.

Disamping itu, BKKBN yang waktu itu sedang giat-giatnya membangun keluarga sejahtera di seluruh pelosok pedesaan, memperluas alasan adanya program yang sangat popular dengan nama Bangga Suka Desa. Program ini dimaksudkan untuk membangun masyarakat pedesaan dengan menciptakan suasana kota di desa untuk memajukan kehidupan sosial budaya yang ada di desa tersebut. Bagi penduduk desa dihimbau agar membuka dan mengembangkan warung-warung kecil di pasar TUGU dan menyiapkan makanan khas desa, agar saudaranya yang datang dari kota bisa menikmati makanan khas tersebut sambil berekreasi di pedesaan. Dengan demikian bisa tercipta dan merubah suasana desa yang sepi dan sunyi menjadi suasana yang menyenangkan seolah-olah berubah menjadi suasana kota di desa. Unsur adanya pemerataan pembangunan dengan memberikan rezeki kepada rakyat di desa oleh orang kota, akan tercipta kepedulian sosial yang membanggakan dan membagi kesejahteraan.

Usulan Menpan yang diperkuat dengan tambahan dari Meneg Kependudukan/Kepala BKKBN tersebut mendapat respon positif dari presiden, sehingga pada kesempatan Hari Keluarga Nasional (HARGANAS) I tanggal 29 Juni 1994 di Sidoarjo, Jawa Timur, presiden Soeharto atas nama pemerintah mengumumkan, bahwa hari Sabtu ditetapkan sebagai hari libur nasional dan kepada Menteri TB Silalahi dan Dr. Haryono Suyono ditugasi untuk mensosialisasikan kepada masyarakat luas di seluruh tanah air.

Setelah diumumkan bahwa hari Sabtu adalah hari libur, ternyata tidak seluruh rakyat Indonesia menerima begitu saja, banyak sekelompok orang/organisasi yang sengaja menolak dan memprotes dengan berbagai macam alasan. Penetapan hari Sabtu libur oleh sebagian orang dianggap tidak sesuai dengan budaya Indonesia, mereka menganggap kebijakan itu meniru bangsa lain terutama bangsa Eropa dan Amerika, dan masih banyak alasan-alasan penolakan lainnya. Bahkan ada yang sengaja mencari siapa dalang dibalik presiden yang mengusulkan libur di hari Sabtu tersebut, agar diberhentikan dari jabatannya. Presiden Soeharto dengan tegas mengatakan, pemberian libur di hari Sabtu adalah tanggung jawabnya, bukan tanggung jawab menteri atau orang yang mengusulkan, sehingga dengan demikian Presiden melindungi para pembantunya dan mengambil oper semua tanggung-jawab. Itu merupakan bukti pemimpin yang sejati yang selalu melindungi bawahannya, ini perlu dijadikan contoh bagi pemimpin-pemimpin lainnya, dalam arti berani bertanggungjawab untuk melindungi anak buahnya. Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah saat ini masih ada pemimpin yang seperti itu, berani melindungi anak buahnya atau para pembantunya yang dianggap bersalah ?

Mudah-mudahan hari Sabtu libur seperti yang kita nikmati sampai hari ini, terus membawa manfaat bagi kita semua, dan proses silaturahmi antar warga kota dan desa terus berlanjut dan lestari. (Penulis adalah Dosen Pascasarjana Universitas Satyagama, Jakarta)

Terima kasih telah membaca artikel Mengapa Sabtu Jadi hari libur Kantor  semoga bermanfaat menambah pengetahuan kita


Next
« Prev Post
Previous
Next Post »