TERKINI

Sejarah Kelam Gempa Bumi di Sulawesi Pada Masa Lalu
Friday, November 09, 2018

Diposkan oleh On Friday, November 09, 2018


Ilustrasi : Sejarah Kelam Gempa Bumi Sulawesi di Masa Lalu
Foto : Ilustrasi
Tak luput dari pembahasan menyangkut gempa bumi yang menjadi ancaman hajat hidup orang banyak ternyata menyimpan historis Sejarah duka pada masa-masa kelam di masa lalu di Pulau Modernitas kemajuan zaman Indonesia Timur.

Jika melihat rentetan sejarah kelam menyimpan ingatan yang mendalam yang tidak pernah dilupakan oleh mereka yang sudah menyaksikan getaran menakutkan. Berikut ini adalah perjalanan panjang Pulau Sulawesi yang diterpa Gempa Bumi dengan skala Richter yang tak biasa.

1. Kepulauan Banggai Tahun 2000

Di tahun 2000 gempa bumi menghantam kepulauan banggai dengan kekuatan 6,5 skala Richter. Tepat pada tanggal 4 Mei tahun 2000, pukul 12.21 WITA, di titik lepas pantai kepulauan Banggai, Sulteng. Pada titik Koordinat 38 Km, Timur Laut kota Salakan Kabupaten Kepulauan Banggai.

Gempa ini menewaskan sedikitnya 56 orang meninggal, dan sebanyak 264 orang dilaporkan telah mengalami luka-luka. Selain itu daerah tersebut juga dihantam Tsunami dengan ketinggian 3 Meter, dan terhitung sebanyak 9 kali gempa susulan terjadi.

2. Gempa Palu Tahun 1938 dan Tahun 2018

Historis kegempaan di Palu sudah banyak terjadi, namun ada 2 yang memakan ratusan korban jiwa, yakni tahun 1938 dan tahun 2018. Tepatnya pada tanggal 14 Agustus 1938, dengan titik gempa berada di teluk Bambu Balaesang, Kabupaten Donggala.
Gempa ini mengakibatkan, 200 orang meninggal dunia, dan sebanyak 790 rumah rusak, dengan gempa berkekuatan 6, Skala Richter, dengan hantaman Tsunami Ke darat setinggi 8-10 meter.

Pada tanggal 28 September 2018 tepat pukul 18.02 Wita, dengan pusat gempa berada 26 Km, Utara Donggala dan 80 km, barat laut kota Palu, dan Tsunami setinggi 5 Meter menghantam kota Palu.

Pemberitaan pertama menyeruak dengan hanya 1 korban nyawa, namun Terakhir, setelah diumumkan oleh BNPB pada 10 Oktober bahwa korban meninggal gempa itu mencapai 2.045 orang, didapati paling banyak ada di Palu sebesar 1.636 orang dan disusul Sigi kemudian Parigi. Sementara itu, korban yang mengungsi sebanyak 82.775 orang, dan 8.731 orang pengungsi berada di luar Sulawesi.

3. Majene Sulawesi Barat, tahun 1969

Pada tanggal 22 Februari tahun 1969, telah terjadi gempa di Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, yang berada pada titik lepas pantai Majene, Sulbar, Sedikitnya dilporkan, gempa itu mengakibatkan 63 orang meninggal, serta kemudian disusul Tsunami setinggi 10 Meter.

4. Gempa Ujung Pandang 1820

Pada data seajarah gempa tanggal 29 Desember 1820 serta gempa berpotensi Tsunami , para tanggal 3 Maret 1927, peneliti menghitung potensi kejadian Gempa dan tinggi Tsunami di Bulukumba, Dan hasilnya dimuat dalam jurnal Geofisika, yang kemudian diterbitkan Oleh Himpunan Ahli Geo Fisika.

Hasilnya, menurut mereka, berdasarkan data historis gempa bumi di Laut Flores yang berpotensi tsunami adalah gempa bumi magnitudo 7,5 (1820) dan 7,1 (1927). Berdasarkan perhitungan, mereka memprediksi pengulangan gempa bumi dengan magnitudo 7,5 dan 7,1 adalah 41 tahun (1861) dan 22 tahun (1949). Sedangkan tinggi tsunami dengan magnitudo 7,1 (17 meter) dan magnitudo 7,5 (25 meter).

5. Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat 1984

Tepat pada tanggal 8 Januari 1984, Mamuju dihantam gempa bumi dengan kekuatan Magnitudo 6,6 Skala Richter.  Dikabarkan pada tahun tersebut, ratusan Jiwa  meninggal Dunia.

Berikuat Video Gempa Bumi di Sulawesi Yang terparah


Sejarah terbentuknya Pulau Sulawesi
Friday, November 09, 2018

Diposkan oleh On Friday, November 09, 2018

Sejarah Terbentuknya Pulau Sulawesi
Foto Pulau Sulawesi. (Google Earth). 

Sejarah kegempaan di Sulawesi tak lepas dari sejarah terbentuknya banyak terjadi termasuk wilayah lain Indonesia yang menjadi bagian satu dataran di masa lalu. Tak heran jika saat ini dampaknya pun sangat dirasakan. Pandangan umum yang banyak diterima oleh sejumlah ahli Sejarah geologi, di mulai dari Zaman Mesozoikum (Sejak 245-65 juta tahun yang lalu), dimana perjalanan panjang waktu manusia belum ada.

Setelah dalam prosesnya, sekitar 215 juta tahun yang lalu, Sulawesi memang berada dalam benua Laurasia yang merupakan satu dataran yakni Eropa dan Asia.  Masih pada zaman Jura atau yang lebih dikenal dengan nama zaman Dinosaurus.

Pertengahan zaman Jura pada masa pertengahannya, bagian barat Indonesia bersama dengan Tibet, Birma Thailand, Malaysia dan Sulawesi Barat, terpisah dari benua Laurasia.
Diperkirakan tabrakan ini terjadi pada 19-13 Ma yang lalu. Kepulauan Banggai Sula bertabrakan dengan Sulawesi timur dan seakan akan menjadi ujung tombak yang masuk ke Sulawesi barat, yang menyebabkan semenanjung barat daya berputar berlawanan dengan arah jarum jam sebesar kira kira 35 derajat, dan bersama itu membuka teluk Bone.

Peristiwa yang paling dramatik dalam sejarah geologi Indonesia terjadi dalam kurun Miosen, Gerakan ke arah barat ini digabung dengan desakan ke darat sepanjang sistem patahan Sorong dari bagian barat Irian dengan arah timur barat, mengubah kedua masa daratan yang akan menghasilkan bentuk khas Sulawesi yang sekarang.

Semenanjung Utara memutar ujung utaranya menurut arah jarum jam hampir sebesar 90 derajat ,yang menyebabkan terjadinya subduksi (penempatan secara paksa suatu bagian kerak bumi di bawah bagian lain pada pertemuan dua lempeng tektonik), sepanjang Alur Sulawesi Utara dan Teluk Gorontalo. Dan Obduksi (penempatan secara paksa suatu bagian kerak bumi diatas bagian lain pada pertemuan dua lempeng tektonik), batuan ultra basis di Sulawesi timur dan tenggara diatas reruntuhan pengikisan atau endapan batuan yang lebih muda yang bercampur aduk.

Sistem Sesar mendatar Sorong ini menerus ke arah timur sampai menumbuk lengan timur Pulau Sulawesi. Pergerakan Sesar ini mengakibatkan terbentuknya zona kompresi tektonik yang kompleks di wilayah Banggai ini dan juga terbentuknya system sesar mendatar Palukoro yang membelah bagian tengah Sulawesi.

Dimulai dari Banggai ke bagian tengah, kemudian mlewati Kota Palu, dan terus ke arah utara . Di zona kompresi Bangai terjadi gempa tahun 2000 (Mw7.6) yang memakan banyak korban dan kerugian. Di sepanjang Sesar Palukoro tercatat sebanyak 4x gempa dengan kekuatan kurang lebih 7 Skala Richter dalam kurun waktu dua ratus tahun terakhir, termasuk gempa Palu tahun 1938 dengan skala 7.9,  dan gempa di bagian barat lengan Sulawesi utara pada tahun 1996 (M7.9).

Selain di daratan Sulawesi juga mempunyai sumber gempabumi di bawah laut, yakni dari zona subduksi Sulawesi utara. Di zona subduksi ini tercatat kejadian gempa berpotensi tsunami pada tahun 1904, dengan kekuatan 8,4.

Sulwesi Selatan juga tidak luput dari bencana gempa dan tsunami. Di wilayah ini sumber gempa berada di daerah pantai barat dan juga di selatan Makasar. Gempa tahun 1969 (M6.9) dan tahun 1984(M6.6) menyebabkan ratusan korban jiwa di Kabupaten Majene dan Mamuju. Kemudian tahun 1820, gempa disertai tsunami memporakporandakan wilayah Kota Ujung Pandang.

Editor : Adriansyah. 

12 Kali Peristiwa Gempa Bumi Mamasa di Hari Jumat 9 November 2018
Friday, November 09, 2018

Diposkan oleh On Friday, November 09, 2018

Gempa Bumi Mamasa Jumat 9 November 2018
Riwayat Gempa Mamasa 9 November 2018, Sumber : BMKG

Aktivitas Sesar Sesar saddang, Jumat 9 November 2018, pada rilis berita ini pukul 18.42 Wita menunjukan sebanyak 12 kali gempa dalam sehari. Meski demikian efek skala Richter yang paling tinggi berada di Angka 4,7 Magnitudo. Berikut adalah 12 deretan peristiwanya yang bersumber dari situs BMKG.

1. Magnitudo 2,2
- 09/11/2018, 16:12:38 WIB         
- 2.99 LS 119.57 BT 
- 2.2 dengan kedalaman 10 Km, Pusat gempa berada di darat 20 km Tenggara Mamasa.

2. Magnitudo 2,7
- 09/11/2018, 13:26:14 WIB         
- 2.62 LS 119.49 BT 
-2.7 dengan kedalaman 10 Km, Pusat gempa berada di darat 37 km Timur Laut Mamasa

3. Magnitudo 3,2
- 09/11/2018, 11:38:59 WIB         
- 3.04 LS 119.32 BT 
- 3.2 dengan kedalaman 10 Km, Pusat gempa berada di darat 14 km Barat Daya Mamasa

4. Magnitudo 3,2
- 09/11/2018, 11:25:59 WIB         
- 2.88 LS 119.35 BT 
- 3.2 dengan kedalaman  10 Km, Pusat gempa berada di darat 4 km Timur Laut Mamasa.  

5. Magnitudo 2,6
- 09/11/2018, 11:16:53 WIB         
- 2.97 LS 119.5 BT   
- 2.6 dengan kedalaman 10 Km, Pusat gempa berada di darat 20 km Tenggara Mamasa.

6. Magnitudo 2,7
- 09/11/2018, 10:27:09 WIB         
- 3.16 LS 119.43 BT
- 2.7 dengan kedalaman 10 Km, Pusat gempa berada di darat 29 km Tenggara Mamasa.

7. Magnitudo 3,4
- 09/11/2018, 10:24:05 WIB         
- 2.91 LS 119.35 BT 
- 3.4 dengan kedalaman 10 Km, Pusat gempa berada di darat 2 km Timur Laut Mamasa.

8. Magnitudo 3,2
- 09/11/2018, 06:19:16 WIB         
- 2.95 LS 119.41 BT 
- 3.2 dengan kedalaman 10 Km, Pusat gempa berada di darat 10 km Tenggara Mamasa.

9. Magnitudo 3,2
- 09/11/2018, 04:50:23 WIB
- 3.04 LS 119.36 BT 
- 3.2 dengan kedalaman 10 Km, Pusat gempa berada di darat 14 km Tenggara Mamasa.

10. Magnitudo 3,6
- 09/11/2018, 03:57:22 WIB         
- 3.18 LS 119.37 BT 
- 3.6 dengan kedalaman 4 Km,  Pusat gempa berada di darat 30 km Tenggara Mamasa.

11. Magnitudo 3,7
- 09/11/2018, 03:39:36 WIB         
- 2.9 LS 119.42 BT   
- 3.7 dengan kedalaman 5 Km, Pusat gempa berada di darat 10 km Timur Laut Mamasa.

12. Magnitudo 4,7
- 09/11/2018, Pukul 01:42:45 WIB          
- 2.89 LS 119.29 BT
- 4.7 dengan kedalaman 10 Km, Pusat gempa berada di darat 4 km Barat Laut Mamasa.

Info – info Sesar Saddang :


Grand Final Tonacanga-Tonalolo 2018 Mateng Usai Dilaksanakan, Perwakilan Kecamatan Karossa Raih Juara Pertama
Friday, November 09, 2018

Diposkan oleh On Friday, November 09, 2018

Finalis Juara Tonacanga Tonalolo 2018 Mateng
Foto Finalis Tonacanga-Tonalolo 2018 (Idham), perwakilan Kecamatan Karossa.

Penyelenggaraan malam puncak grand final Pemilihan Tonacanga Tonalolo Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng) tahun 2018, dilaksanakan secara meriah dan spektakuler    kegiatan ini menyuguhkan beberapa penampilan seperti kesenian tari tradisonal dan penyanyi top  asal Mamuju di halaman Kompleks KTM Mateng.

Kegiatan yang merupakan ajang pemilihan tonacanga dan tonalolo ini adalah kegiatan tahunan yang di selenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan  Mateng, yang akan menobatkatkan satu pasang putra dan putri (Tonacanga dan tonalolo) sebagai duta wisata kab mamuju tengah tahun 2018. Rabu (7/11/18).

"Kegiatan Grand Final Pemilihan tonacanga dan tonalolo ini adalah salah satu warna kegiatan yang bisa menjadi semangat baru  dalam mencetak generasi yang berkualitas yang akan memajukan kepariwisataan di mamuju tengah, juga menjadi semangat baru  dalam mendukung program Pemerintah daerah baik tingktat kabupaten maupun provinsi” ucap Nursina amir  Selaku Kepala Bidang Kebudayaan dalam sambutannya di pembukaan grand Final Pemilihan Tonacanga dan Tonalo Mateng. 

Ditambahkannya Peserta yang terpilih dapat mempromosikan budaya yang ada di kabupaten mamuju tengah agar mamuju tengah dapat lebih di kenal di daerah lain.

“Dan untuk itu juga kami akan tetap menggandeng adik - adik  alumni tonacanga dan tonalolo untuk membantu kami dalam hal melestarikn kebudayaan di mamuju tengah" tambahnya.

Dalam sambutan kedua ketua DPRD Mateng,  H. Arsal Aras,  menyampaikan  pemilihan duta wisata ini jangan hanya kegiatan rutinitas setiap tahun, tetapi harus ditindaklanjuti, duta wisata harus lebih diberikan ruang dan dilibatkan dalam promosi wisata Kabupaten mamuju tengah, bagaiamana caranya agar mereka bisa untuk berlomba-lomba dalam mempromosikan wisata.

“Kegiatan Duta Wisata ini diikuti oleh 10 pasang finalis dan saling bersaing untuk menarik hati juri dengan penampilan terbaiknya,” kata Wahyudi Yang Merupakan Ketua Ikatan Tonacanga dan Tonalolo.

Adapun puncak malam grand final  sebagai juara pertama Putra yaitu Idam Putra Galib  perwakilan dari Kecamatan karossa, dan  juara pertama putri yaitu Nimade Widyastuti juga merupakan Perwakilan dari Kecamatan Karossa.

Penulis : Heril Putra Ghalib
Editor : Adri M. Fatwa

Sesar Saddang dan Sejumlah Fenomenannya
Thursday, November 08, 2018

Diposkan oleh On Thursday, November 08, 2018


Perbincangan hangat di media lokal banyak di bahas akhir-akhir ini adalah sesar Saddang. Seiring terjadinya gempa, dan pemicu yang menyebabkan gempa susulan di Mamasa dan sekitarnya sering terjadi. Fakta memang telah banyak menunjukan Keaktifan sesar Saddang ini yang membuat ribuan warga panik hingga memilih tinggal ditenda pengungsian.

Jika melihat secara geologis, pulau sulawesi memang pada kenyataannya berbentuk daratan yang berbukit, dan karenanya daratan yang berada pada permukaannya pun, terdapat secara umum dataran tinggi.

Fakta-fakta menunjukan, Sesar Saddang kurang lebih telah mengguncang dataran Mamasa dan sekitarnya dengan Skala Richter 5,5 yang terbilang paling keras. Data dan informasi media lokal dan media nasional telah banyak memberitakan hal tersebut. Berikut fenomena sesar saddang.

Keaktifan Sesar Saddang di Picu Oleh Sesar Palu-Kuro    
Dimuat dalam situs Media Nasional, “Harnas”, Badan Meteorologi klimatologi dan Geofisika (BMKG), Plt Kepala BBMKG wilayah IV Makassar, Joharman menjelaskan, aktivitas tektonik tersebut memang telah dipicu oleh gempa tektonik, Sesar Palu-Kuro.

Beberapa waktu yang lalu tepatnya 28 November 2018, aktivitas kegempaan di palu kuro memicu pengaruh aktivitas sesar saddang, dan 3 sesar lain di Sulawesi, yakni sesar Walanae, atau sesar Watano.

Sebanyak 118 kali Mamasa diguncang Gempa
Dimuat dalam situs sinarkata. Media, Berdasarkan catatan Balai Besar Meteorologi, Klimatoligi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah IV Makassar, sejak tanggal 3 hingga 7 November 2018 (hingga pukul 21.30 Wita), gempabumi sudah terjadi sebanyak 118 kali di wilayah Kabupaten Mamasa, Sulawesi barat (Sulbar) dan sekitarnya. Namun, hanya sebanyak 21 gempa yang getarannya terasa. Dan seiring dengan perkembangannya terus bertambah.

Sedikitnya 10.464 warga di Mamasa mengungsi
Aktivitas kegempaan yang dianggap sebelumnya biasa-biasa saja seperti di Palu dan Mitigasi bencana yang belum menjadi solusi yang pada akhirnya menelan korban jiwa menjadi pembelajaran, karena alat-alat untuk pendeteksi terjadinya Gempa Bumi Skala besar (Jika kemungkinan terjadi) bisa dikatakan belum ada.

Seacara otomatis masyarakat resah, meskipun ada himbauan dari pemerintah daerah setempat utuk tetap tenang. Meski gempa bumi jarang terjadi di Mamasa, namun faktanya, sesar saddang akhir-akhir ini, gempa susulan sangat sering terjadi dengan varian 2 - 3 hinga 5 Skala Richter.

Pembangunan disekitar Sesar  Saddang
Kita belum bisa menyimpulkan, pembangunan infrastruktur seperti rumah-rumah masyarakat, infrastrukrur pemerintahan di Sulbar berada tepat disekitar sesar. Saat ini datanya sangat minim, namun pemerintah pada khususnya stakeholder terkait untuk saat ini merencanakan pengawasan pembangunan, guna mengurangi dampak kerusakan Oleh aktivitas Sesar Saddang.

Skala Gempa yang tidak menentu yang mengancam hajat hidup orang banyak
Seperti di muat dalam Situs Wacana. Info, Komisi Informasi (KI) Sulawesi Barat (Sulbar),  untuk membuka informasi seputar gempa tersebut. Sekaligus memenuhi kewajiban tentang keterbukaan informasi publik. 

Ketua KI Sulbar menjelaskan, Sebagaimana yang diamanahkan dalam pasal 10 ayat (1), Undang-undang no.14 tahun 2008 tentang keterbukaan informasi publik. Menurutnya informasi tersebut harus membuka informasi tersebut yang dapat mengancam hajat hidup orang banyak. Ketua KI Sulbar, Rahmat Idrus  mengharapkan agar BMKG Stasiun Majene untuk memberikan informasi potensial bencana tersebut kepada masyarakat. 


 Editor : Adriansyah.

Angka Pengangguran di Sulbar Tahun 2018
Monday, November 05, 2018

Diposkan oleh On Monday, November 05, 2018

Ilustrasi 

Tercatat  Jumlah pengangguran di Sulbar pada bulan Agustus tahun 2018 sebanyak 20,2 ribu orang, dengan persentase diangka 3,16 persen. 

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar), Win Rizal mengatakan angka tersebut jika dikalkulasi dari 100 penduduk yang berkategori angkatan kerja, 3 orang diantaranya adalah pengangguran.

"Hasil pendataan Ketenagakerjaan untuk agustus 2018, penduduk usia kerja 15 tahun ke atas sebesar 321,7 ribu orang, 6,19, artinya 3 orang tidak bekerja dari 100 orang"Jelasnya.

Sementara ditingkat perkotaan, TPT di Sulbar, Perkotaan lebih tinggi, sejak tahun sebelumnya. Jika melihat struktur pekerjaan di Sulbar sebesar 52,19 persen,l dengan kisaran angka pertambahan 0,0023 atau 1,78 persen, disusul perdagangan 13,96 persen dengan pertambahan dari tahun 2017 ke 2018 sebesar 1,01 persen.

"Penduduk yang bekerja di tahun agustus 2017 sebanyak 595,0 ribu orang, kita bandingkan Agustus 2018 jumlah penduduk bekerja 619,4 Ribu Orang persentasenya ditambah buruh Karyawan /Pegawai/ 24,28 persen" Jelasnya.

Win Rizal menjelaskan, perkembangan Tingkat Pasrtisipasi Angkatan Kerja (TPAK), menurut jenis kelamin per- Agustus 2017 – Agustus 2018.

“Jadi fenomenanya kalau kita bandingkan, memang cenderung di Agustus ini lebih kecil daripada Februari, jadi kalau kita lihat di Agustus 2018, 632 ribu orang, terjadi penurunan 23,07 ribu orang” Ungkapnya.

Editor : Adriansyah   

Ekonomi Sulbar Kurun Waktu 12 Bulan Tahun 2017-2018
Monday, November 05, 2018

Diposkan oleh On Monday, November 05, 2018

Ilustrasi : Pertumbuhan Ekonomi Sulbar kurun waktu 12 Bulan

Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Barat (Sulbar), sebagaimana yang dimaksud Triwulan III tahun 2018, yakni bulan Juli hingga September mengalami pertumbuhan ekonomi dengan persentase 7,90 persen, dalam rentan waktu 12 Bulan atau dari tahun ke tahun (Year On Year) 2017-2018.

Hal tersebut diketahui, setelah Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulbar, merilis berita resmi statistik, dikantornya Senin, (05/11/18).

Kepala BPS Sulbar, Win Rizal Mengatakan dalam pres rilis tersebut, Gambaran perekonomian Sulbar selama 3 bulan terakhir dengan akumulasi Pendapatan Hasil Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) menunjukan angka positif.

"Laju perkembangan dari tahun ke tahun, Triwulan III tahun 2017, sebesar 7,12 persen mengalami peningkatan. Di tahun 2018, sebesar 7,90 persen, yang paling tinggi adalah, Lapangan industri prngolahan sebesar 13,60 persen" Ungkapnya.

Ia menjelaskan, dalam skala hituangan Year On Year, Komponen yang paling berpengaruh adalah Pengeluaran Komsumsi Pemerintah, Ekspor. Kelompok yang memberikan andil, Komsunsi pemerintah 3,23 Persen.

“Dari sisi pengeluaran jika dihitung Triwulan tertinggi itu komponen pengeluaran pemerintah dengan pertumguhan  ekonomi sebesar 8,52 persen dari triwulan I-III di tahun ini” Jelasnya.

Ia juga menjelaskan untuk menentukan pertumbuhan, dari total 7,90 persen, sementara dari bulan ke bulan, triwulan III 2018, pengeluaran untuk komsumsi rumah tangga cenderung turun, dari Indeks angka pengeluaran sebesar 6,47 persen.

Dari data BPS Sulbar, Struktur PDRB Sulbar , jika dihitung ranking Sulawesi Maluku dan Papua (Sulampua), Sulbar berada pada posisi kedua sebesar 7,90 persen. Posisi pertama Maluku Utara 8,17 Persen.

Sementara itu berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), jumlah nilai tambah barang dan jasa di Sulbar  yang dihasilkan dari seluruh kegiatan perekonomian daerah dengan harga berlaku mencapai sebesar 11,38 Milyar Rupiah. Sedangkan dengan harga Konstan terhitung sejak tahun 2010 mencapai 8,09 Triliun Rupiah.

“Ekonomi Sulbar mengalami pertumbuhan di sisi lapangan usaha administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib 44,89 persen, Komsumsi pemerintah meningkat signifikan sebesar 45,77 persen” Jelas Win Rizal dalam Pres Release di Aula lantai dua Kantor BPS Sulbar.

Sulbar Dalam Pertumbuhan Ekonomi :




Rilis : BPS Sulbar

Editor : Adriansyah

Mengenal Sesar Saddang Melewati Pesisir Pantai Mamuju Memotong Wilayah Sulsel
Monday, November 05, 2018

Diposkan oleh On Monday, November 05, 2018

Sesar di Pulau Sulawesi.

Dipulau Sulawesi, ada beberapa Sesar (Patahan), Sehingga terjadi Gempa Bumi, yang kemudian mengakibatkan Fraktur (Keretakan) batuan,  Volume batuan itu kemudian menghasilkan pergeseran yang pada kesimpulannya menghasilkan energi.

Dari hasil energi tersebut kemudian disebutlah Deformasi atau serangkaian peristiwa dalam gempa bumi yang menghasilkan perubahan ke kondisi yang baru, dimana bumi kehilangan batas elastisnya sehingga massa batuan yang ada didalam bumi akan pecah atau patah, sehingga menimbulkan pergerakan yang dirasakan manusia dengan sebutan Skala Richter.

Ada 6 sesar di Pulau Sulawesi  namun yang terjadi dan paling sering mengalami guncangan gempa bumi adalah Sesar  Saddang saat ini :

-Sesar  Palu-Koro
-Sesar  Saddang
-Sesar  Matano
-Sesar  Lawanopo
-Sesar  Walanae
-Sesar Gorontalo

Sesar Saddang

Foto BMKG : Sesar  Saddang  
Sesar Saddang memanjang dari pesisir pantai dan memotong wilayah Sulawesi Selatan (Sulsel) bagian tengah, yakni kota Bulukumba hingga ke Pulau Selayar bagian Timur hingga bergaris dari pesisir pantai Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar).

Dimuat dalam situs Indonesi-Update, Pengamat kebencanaan Sulawesi Tengah (Sulteng), Abdullah mengatakan, Sesar Saddang tersebut sudah cukup panjang, diperkirakan kurang lebih 400 kilometer, dan merupakan sesar geser aktif di pulau Sulawesi. 

Peta distribusi Gempa Bumi Mamasa dan sekitarnya per-tanggal 03-04 November 2018

Foto : BMKG
Data yang dimuat dalam Badan Meteorologi Klimatologi dan GeoFisika (BMKG) Balai Besar BMKG Wilayah IV Makassar, terhitung ada beberapa titik merah yang menjadi peta  distribusi Gempa Mamasa dan Sekitarnya oleh aktivitas Sesar Saddang.

Lebih lanjut Abdullah mengatakan, aktivitas gempa sejak hari sabtu-Minggu per-tanggal 03 hingga 04 November 2018, terhitung aktivitas sesar sebanyak 22 kali dan kemungkinan sangat kecil terjadi Gempa dengan kekuatan mencapai 7 Skala Richter.

Historis Tahun 2016 juga pernah terjadi Aktivitas Sesar Saddang

Foto : BMKG
Dimuat dalam situs Karebatoraja, pada tanggal 6 Oktober 2016, gempa dengan aktivitas Sesar Saddang juga terjadi. Tepat 2 tahun yang lalu , BMKG Mencatat gempa bumi di Mamasa pukul 16.32.53 Wita, berkekuatan 4,0 Skala Richter. 

Hasil analisis BMKG, gempa dirasakan dibeberapa wilayah, yakni Toraja Utara (Tator), Seperti Sarangsarang, Pangala, Karungian, Tondon, Sadang, Rantepao, Bintuang, Rantetayo, serta Pulu’pulu.

Luas Panen dan Produksi Padi di Sulbar Tahun 2018
Thursday, November 01, 2018

Diposkan oleh On Thursday, November 01, 2018

Ilustrasi

Panen padi di Provinsi Sulawesi Barat periode Januari-September 2018 sebesar 61,79 ribu hektar. Dengan memPerhitungkan potensi sampai Desember 2018, maka luas panen tahun 2018 adalah 67,84 ribu hektar. 

Produksi padi di Provinsi Sulawesi Barat periode JanuariSeptember 2018 sebesar 300,30 ribu ton Gabah Kering Giling (GKG). Berdasarkan potensi produksi sampai Desember 2018, maka diperkirakan total produksi padi tahun 2018 sebesar 326,17 ribu ton GKG. 

Jika produksi padi dikonversikan menjadi beras dengan mengupakan angka konversi GKG ke beras tahun 2018, maka produks: padi tersebut setara dengan 186,37 ribu ton beras. 

Baca juga :

Hunian Kamar Hotel Disulbar
Thursday, November 01, 2018

Diposkan oleh On Thursday, November 01, 2018

Ilustrasi

Tingkat Penghunian Kamar (TPK) Hotel Bintang di Sulawesi Barat periode September 2018 sebesar 41,57 persen. TPK tersebut mengalami penurunan sebesar 9,71 persen dibandingkan dengan periode Agustus 2018 yang tercatat sebesar 51,28 persen. 



Rata-rata lama menginap tamu Asing pada Hotel Bintang periode September 2018 sebesar 2,88 hari atau mengalami peningkatan sebesar 2,88 hari, jika dibandingkan dengan bulén Agustus 2018 sebesar 0 hari. 

Baca juga :


Jumlah Pesawat yang berangkat dan Datang di Sulbar Tahun 2018
Thursday, November 01, 2018

Diposkan oleh On Thursday, November 01, 2018



Menrut data BPS Provinsi Sulbar, bahwa Di Sulawesi Barat selama periode bulan September 2018 tercatat masing-masing sebanyak 134 kali penerbangan. Jumlah ini mengalami penurunan sebesar 4,96 persen jika dibandingkan dengan bulan Agustus 2018.

> Jumlah pelayaran di Bulan September 2018

Jumlah pelayaran melalui pelabuhan di Sulawesi Barat selama periode bulan September 2018 sebanyak 307 unit kapal, terjadi peningkatan sebesar 46,89 persen jika dibandingkan’ dengan keadaan bulan Agustus 2018 yang tercatat sebanyak 209 unit kapal.



Baca juga :





Rilis : BPS Sulbar  

Nilai Tukar Petani di Sulbar Menjelang Akhir Tahun
Thursday, November 01, 2018

Diposkan oleh On Thursday, November 01, 2018



Nilai Tukar Petani (NTP) Sulawesi Barat Oktober 2018 sebesar 110,50; turun 0,83 persen dibandingkan NTP September 2018. Selain itu, NTP menurut subsektor tercatat untuk Subsektor Tanaman Pangan (NTP-P) 100,79; Subsektor Hortikultura (NTP-H) 114,92; Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat (NTP-R) 117,82; Subsektor Petemakan (NTP-T) 105,83; dan Subsektor Perikanan (NTN) 107,99.

Hasil pemantauan harga konsumen perdesaan menunjukkan terjadinya inflasi perdesaan di Sulawesi Barat pada Oktober 2018 sebesar 0,10 persen, yang secara umum dipicu oleh sebagian besar indeks harga kelompok pengeluaran yang mengalami peningkatan. 

lnflasi di daerah perdesaan terjadi di 24 provinsi d’ Indonesia, tertinggi di Sumatera Barat sebesar 0,94 persen dan Terendah di DKI Jakarta sebesar 0,01 persen. Sedangkan 9 provinsi lainnya mengalami deflasi, tertingg' di Maluku 0,73 persen dan terendah di Kepulauan Riau 0,04 persen. Sulawesi Barat menempati urutan ke-19 dari 24 provinsi yang mengalami lnflasi perdesaan. 

Untuk skala nasional, NTP bulan Oktober 2018 sebesar 103,02; turun sebesar 0,14 persen dibandingkan bulan September 2018, dan mengalami inflasi perdesaan sebesar 0,35 persen. 

Baca juga :


Penyebab 3 Indikator Harga Konsumen Sehingga Terjadi Inflasi di Mamuju
Thursday, November 01, 2018

Diposkan oleh On Thursday, November 01, 2018


Inflasi di Mamuju, Dengan 3 Indikator.

Ada 3 Indikator Inflasi atau proses meningkatnya harga secara umum terus menerus berkaitan dengan mekanisme pasar di Mamuju provinsi Sulawesi Barat (Sulbar), Bulan Oktober 2018. Indikator (Indeks) tersebut dibuktikan pada harga kelompok pengeluaran.

Hal itu diketahui setelah Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulbar, merilis berita resmi statistik di kantornya, Kamis, (1/11/18). 

Kepala Bidang Statistik Distribusi Provinsi Sulbar, Fredy Takaya mengatakan, sejumlah indikator tersebut adalah kelompok pengeluaran perumahan, listrik, air gas dan bahan bakar. Kelompok kedua, bahan makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau.

"Yang pertama adalah, Perumahan, air listrik, gas, bahan bakar, 0,12 persen. Selanjutnya ada kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,16 persen" Kata Fredy.

Fredy melanjutkan, kelompok yang mengalami deflasi yang sekaligus memberi dampak inflasi adalah kelompok bahan makanan 0,12 persen, kelompok pendidikan rekreasi dan olahraga 0,06 persen, Kelompok transport, komunikasi dan jasa keuangan 0,12 persen.

"Sementara cenderung tetap stabil kelompok pengeluaran kesehatan" Jelasnya.

Dari data BPS Sulbar sendiri, tercatat pada skala nasional, hasil Survei Harga konsumen 82 kota di Indonesia, Oktober 2018, sebanyak 66 kota mengalami Inflasi, dan 16 kota mengalami deflasi.

Sementara itu, disebutkan Mamuju menempati urutan ke-64. Jika dihitung tahun kalender Oktober 2018, dalam rentan waktu 1 tahun, mengalami Inflasi 2,46 persen. Angka 2,46 persen tersebut menempatkan Mamuju dalam skala regional Sulawesi berada pada posisi ke 9 Inflasi.(*ADR).

Baca juga :